Tempat Wisata di Jogja dan Sekitarnya yang Murah dan Menarik

Tempat Wisata di Jogja dan Sekitarnya yang Murah dan Menarik -- Wisata Alam dan Wisata Kuliner di Jogja / Yogya / Yogyakarta, Tempat Wisata di Jogja yang Hits dan Wajib Dikunjungi Saat Liburan, Tempat Wisata di Jogja yang Murah, Tempat Wisata Unik di Jogja, Hotel di Dekat Tempat Wisata Jogja, Review Tempat Wisata di Jogja, Tempat Wisata Romantis di Jogja. Tiket Masuk Wisata

Daerah Istimewa Yogyakarta atau yang dikenal pula dengan nama Jogja, merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terkenal sebagai kota pelajar. Hal ini dikarenakan kota Gudeg ini memiliki banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi.

Asal usul Taman Siswa yang digagas Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, pun berada di sini. Tapi, tidak melulu soal belajar, eksotisme Jogja juga merupakan magnet bagi para wisatawan untuk menjelajah kotanya dan turut larut dalam ragam budaya yang ditawarkan. Bagi Anda yang tinggal di luar Jogja ataupun pelajar yang sedang merantau di Jogja dan ingin menghabiskan akhir pekan dengan mendatangi sudut wisata yang murah, menarik dan berkesan, dalam artikel berikut kami akan suguhkan beberapa alternatif yang direkomendasikan untuk dicoba.

Candi Prambanan

Berkunjung ke Jogja akan terasa tidak lengkap tanpa berfoto dengan latar bangunan Candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Sejak tahun 1991, candi yang terletak di tepi Jalan Raya Yogyakarta-Solo ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. 

Candi Prambanan ini disebut juga dengan Candi Roro Jonggrang. Penamaan ini tak lepas dari legenda kuno masyarakat Jawa yang meyakini suatu cerita seorang pangeran bernama Bandung Bondowoso yang ingin menikahi seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang. Putri ini sebenarnya tidak menginginkan lamaran Bandung Bondowoso, akan tetapi karena tidak bisa menolak, ia pun mengajukan persyaratan yang hampir tidak masuk akal, yakni membangun 1000 arca dalam waktu semalam. 

Siapa sangka ternyata Bandung Bondowoso mampu menyanggupi permintaan tersebut dan hampir selesai. Roro Jonggrang yang tidak ingin menikahi pangeran ini kemudian berbuat curang dengan meminta bantuan masyarakat untuk menumbuk padi, agar ayam berkokok dan menandai hari sudah berganti pagi. Pada saat ayam berkokok, Bandung Bondowoso sudah menyelesaikan 999 arca. Ia pun sangat murka mengetahui kecurangan Roro Jonggrang. Ia pun mengutuk putri yang ingin dinikahinya ini menjadi arca ke-1000.

Terlepas dari legenda Roro Jonggrang ini, Candi Prambanan memiliki tiga candi di halaman utama, yang merupakan simbolisasi dari Trimurti, suatu kepercayaan umat Hindu yang meyakini tiga kekuatan Tuhan sebagai pencipta (Brahma), pemelihara (Wisnu) dan pelebur atau penghancur (SIwa). Setiap candi utama akan didampingi oleh satu candi pendamping yang merupakan simbolisasi kendaraan dari masing-masing dewa pada candi utama. Candi pendamping tersebut adalah Angsa, Garuda dan Nandini berturut-turut untuk Brahma, Wisnu dan Siwa.

Untuk masuk ke areal candi yang memiliki ketinggian 47 meter ini, pengunjung hanya perlu membayar Rp 8.000,00 saja. Harga ini jauh lebih murah daripada harga yang dipatok untuk turis mancanegara yang mencapai US $10. Dengan tiket masuk yang murah meriah ini, Anda akan disuguhkan pahatan relief candi yang luar biasa menarik. Jika Anda melihatnya lebih seksama, ada cerita Ramayana yang dipahat di dinding candi yang dibangun pada masa pemerintahan Wangsa Sanjaya pada sekitar tahun 850 Masehi. Jika Anda tertarik, datanglah ke candi ini pada saat bulan purnama, karena ada pementasan Sendratari Ramayana yang akan memvisualkan langsung kepada Anda kisah Ramayana yang dipahat di dinding tadi. Di candi ini juga ada museum yang menyajikan dengan lengkap sejarah bagaimana candi ini ditemukan hingga ke pemugarannya hingga bisa berdiri sampai sekarang.

Fort Vredeburg Museum alias Musem Benteng Vredeburg

Jogja adalah kota tua dengan beragam peninggalan bersejarah yang membuat Anda tersedot kembali ke masa lampau seolah Anda terlibat langsung di hari tersebut. Bagi Anda penyuka wisata sejarah, kota yang terletak di wilayah Jawa bagian tengah ini akan memanjakan hati dan pikiran Anda dengan jejak-jejak sejarah yang kental. Salah satunya adalah Benteng Vredeburg yang terletak di Jalan Margo Mulyo, tepat di depan Gedung Agung dan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Benteng ini adalah peninggalan zaman kolonial Belanda. Dimasanya, benteng yang sekarang sudah menjadi musem yang menyimpan banyak diorama tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia ini adalah pusat pemerintahan dan pertahanan Belanda. Benteng yang bentuknya persegi ini dilengkapi dengan menara pantau (bastion) di ke empat sudutnya dan dikelilingi oleh parit. Keempat menara pantau ini dinamai dengan istilah jawa, yakni Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara) oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Benteng ini didirikan atas permintaan Belanda pada sekitar tahun 1760 dengan alasan untuk emnjaga kraton Yogyakarta. Oleh karena itulah benteng Vredeburg ini tepat berada di depan kraton. Akan tetapi, semua pihak yakin bahwa alasan pendirian benteng ini sama sekali bukan untuk menjaga keamanan kraton Yogyakarta melainkan agar Belanda dapat mengawasi gerak-gerik kraton.

Sejak tahun 1992, benteng Vredeburg ini dialihfungsikan sebagai Muuseum Khusus Perjuangan Nasional dan nama resminya diubah namanya menjadi Museum Benteng Yogyakarta. Museum ini buka dari Selasa sampai Minggu, dengan tiket masuknya Rp 2.000,00 saja. Dengan tiket masuk yang sangat murah ini, Anda bisa berkeliling ke empat diorama yang menyajikan sejarah perjuangan bangsa. Gedung diorama 1 akan membawa Anda kembali ke zaman Pangeran Diponegoro yang terkenal sebagai pemimpin perjuangan banga, lanjut ke kongres Budi Utomo, kemudian sejarah berdirinya organisasi Muhammadiyah, sejarah terjadinya pemogokan kaum buruh di pabrik gula, berdirinya Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara, Kongres Peremuan Indonesia yang pertama, Kongres Jong Java, hingga sejarah awal mula masuknya Jepang di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sementara itu Gedung Diorama 2 membahas jaman proklamasi kemerdekaan, dimana cerita dimulai dari bagaimana Sultan Hamengku Buwono IX yang mendukung proklamasi, pergantian nama Harian Sinar Matahari menjadi Kedaulatan Rakyat, penurunan bendera Jepang di Gedung Agung yang kemudian digantikan dengan Bendera Merah Putih, sejarah pengeboman balai mataram, sampai kemudian bagaimana Akademi Militer berdiri di Yogyakarta dan Universitas Gajah Mada, dan kemudian peristiwa pemindahan Ibu Kota Indonesia ke DIY.

Masuk ke Gedung Diorama 3, ingatan pengunjung akan dibawa kembali ke masa setelah kemerdekaan. Cerita dimulai dari lukisan yang menggambarkan keadaan rakyat di masa penjajahan, kemudian Perjanjian Renville 1948, agresi militer, serangan umum 1 Maret 1949, dan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat yang terjadi pada tanggal 27 Desember 1949. 

Adapun di Gedung Diorama 4, pengunjung dapat menyaksikan kondisi Indonesia pada masa yang lebih baru, dimulai dari pemilihan umum  pertama, Rencana Colombo 1959, Seminar Nasional Pancasila, Sejarah Trikora alias Tri Komando Rakyat, Peristiwa G30 SPKI dan Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4).

Puas berkeliling banteng, Anda bisa beristirahat di Indische Koffie, sebuah kafe dan resto bernuansa klasik yang menyajikan suasana Indo-Holland yang sangat kental, dengan pilihan menu yang khas Jawa dan juga tipical Belanda.

Jalan Malioboro

Pergi ke Jogja tentu tak elok jika tidak mampir berbelanja ke Jalan Malioboro. Bahkan jikapun Anda bukan seseorang berlabel shopaholic yang gila belanja, tempat paling hits yang terletak di poros imajiner keratin Jogjakarta, tepatnya di antara Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo ini akan membuat Anda tertarik untuk sekedar berjalan-jalan dan melihat-lihat benda-benda etnik yang ditawarkan.

Jalan ini konon dibangun bersamaan dengan pendirian keratin Jogjakarta. Nama jalan ini sendiri berarti karangan bunga, yang diambil dari Bahasa Sansekerta. Adapula yang menyebutkan bahwa nama jalan ini berasal dari nama seorang Inggris bernama Marlborough yang pernah tinggal di sana antar atahun 1811 hingga 1816.

Jalan Malioboro ini sangat terkenal karena memiliki sangat banyak pedagang kaki lima yang menjual aneka kerajinan khas kotaJogja dan warung-warung kecil dengan konsep lesehan yang dikenal dengan istilah angkringan, yang buka di malam hari dan menjual makanan khas Jogja, yakni sayur gudeg . Tempat ini juga dikenal sebagai tempat nongkrong dan pentasnya para seniman yang bermain musik, berpantomin, melukis dan lainnya. Bisa dibilang Jalan ini selalu “hidup” dari pagi hingga pagi lagi.


Demikianlah beberapa lokasi wisata di Jogja dan sekitarnya yang tidak membuat kantong bolong namun menyisakan pengalaman yang berbekas di otak dan hati pengunjungnya. Jangan lupa untuk menyiapkan catatan kecil rute wisata agar perjalanan Anda semakin lancar walaupun di tengah hari yang padat. Selamat menikmati Jogja!