Tempat Wisata di Palembang dan Sekitarnya yang Murah dan Menarik

Tempat Wisata di Palembang dan Sekitarnya yang Murah dan Menarik -- Tempat Wisata di Palembang Sumatera Selatan, Wisata Alam dan Wisata Kuliner di Palembang, Tempat Wisata di Palembang Yang Wajib Dikunjungi, Daftar Tempat Wisata di Palembang, Tempat Liburan di Palembang Yang Menarik, Destinasi Tempat Wisata di Palembang dan Sekitarnya yang Terkenal.

Belum punya alternatif tempat untuk menghabiskan liburan dengan orang terkasih? Kami sarankan Anda untuk berkunjung ke Bumi Sriwijaya dan bertemu dengan wong kito galo, sapaan akrab masyarakat Palembang.

Ibu kota provinsi Sumatera Selatan yang terkenal akan pupuk PUSRI nya ini ternyata adalah gudang wisata potensial yang siap menorehkan memori cantik di hati Anda. Dengan harga yang terjangkau, liburan yang berkesan siap hadir di tengah-tengah Anda. Dalam artikel berikut kami tawarkan beberapa destinasi wisata di Kota Empek-empek yang siap memanjakan Anda dan keluarga.

1. Jembatan Ampera

Pergi ke Palembang belum sah hukumnya tanpa mengunjungi Jembatan Ampera, ikon wisata Kota Palembang, bahkan provinsi Sumatera Selatan. Berlokasi di tengah-tengah sungai musi yang membentang di tengah-tengah kota, jembatan dengan panjang 1.117 meter ini merupakan jalur yang sibuk karena menghubungkan daerah seberang ulu dan seberang ilir. Walaupun jembatan ini diselesaikan pada tahun 1965, tapi sebenarnya ide untuk menyatukan dua daratan Kota Palembang yang terpisah ini sudah terlintas dari sejak zaman kolonial Belanda  di tahun 1906.

Pembangunan jembatan ini dilakukan dengan menggunakan dana perang Jepang dan juga tenaga ahli dari Negeri Sakura tersebut. Pada awalnya jembatan ini akan dinamakan Jembatan Bung Karno, akan tetapi karena situasi politik Indonesia yang pada saat itu gonjag-ganjing dan terlebih lagi Ir. Soekarno dilengserkan dari jabatannya, gerakan-gerakan yang anti Bung Karno pun bermunculan. Hal ini menyebabkan nama jembatan disepakati sebagai Ampera, alias Amanah Penderitaan Rakyat.

Nah jika Anda pergi ke Jembatan Ampera, kami sarankan untuk datang di sore hari menjelang matahari terbenam, karena pada saat itu seluruh lampu di jembatan yang mulai tahun 1970 ini tidak di buka tutup lagi ini, akan dinyalakan dan memberikan penegasan arsitekturnya yang menawan. Selain itu di waktu malam juga banyak wisata kuliner khas Palembang yang dapat Anda temukan di sekitar lokasi.

2. Sungai Musi

Sungai terpanjang di Pulau Sumatera adalah Sungai Musi, yang juga membelah Kota Palembang menjadi dua bagian, ulu dan ilir. Sungai sepanjang 750 kilometer ini adalah jalur transportasi utama dari sejak zaman Kerajaan Sriwijaya yang mayoritas lalu lintas  jarak jauhnya memang melalui jalur air. Mata air yang mengaliri Sungai Musi ini berasal dari Kepahiang, Bengkulu.

Bagi penikmat wisata alam dan sejarah, jelajah sungai musi adalah paket wisata yang tidak boleh Anda abaikan. Di sini Anda bisa menyewa perahu ketek untuk mengarungi sungai yang sudah termahsyur sejak dulu. Harga sewa perahu ketek ini cukup murah yakni sekitar 200 ribuan saja. Berbeda halnya jika Anda menyewa bus air yang dikenakan tariff 1.2 juta rupiah dengan kapasitas 40 orang, maupun kapal pesiar seharga tujuh juta rupiah untuk kapasitas 70 orang. Akan tetapi jika bepergian dalam jumlah besar, tentu saja alternatif transportasi selain perahu ketek layak dipertimbangkan. Di sepanjang aliran sungainya, Anda pun dapat melihat peninggalan-peninggalan zaman kerajaan hingga kolonial, dengan beragam histori dibaliknya. Di sepanjang sungai juga terdapat berbagai kampung etnis yang berasal dari luar suku asli, yang menandakan banyaknya pendatang yang datang ke sekitaran sungai musi.

3. Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak atau yang dikenal dengan nama beken BKB ini adalah bangunan dari abad 18 yang menjadi pusat Kesultanan Palembang. Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang kemudian dikerjakan dan diselesaikan oleh pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II. Benteng ini terletak dekat dengan Jembatan Ampera sehingga Anda bisa sekaligus berwisata kesini. Pemilihan lokasi Benteng Kuto Besak yang dikelilingi sungai sebenarnya dengan alasan yang cermat, agar siapapun yang ingin mendekati keraton terpantau sebelumnya oleh istana. Pada zaman kolonial, di benteng yang memili bastion alias menara pantau di tia[ sudutnya ini dilengkapi dengan banyak meriam. Bagi Anda yang ingin masuk dan melihat kejayaan Kesultanan Palembang di masa lalu hanya perlu merogoh kocek lima ribu rupiah saja.

4. Monpera

Spot bersejarah lain yang terletak dengan Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera adalah Tugu Pahlawan yang disebut dengan Monumen Perjuanga Rakyat (MONPERA) yang terletak di Jalan Merdeka No. 1, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat, Palembang. Di tempat ini juga dibangun musem yang menceritakan pertempuran melawan Belanda dengan banyak cerita terkait senjata, foto-foto pahlawan, kostum pahlawan, mata uang lama dan patung. Monumen ini diresmikan pada tahun 1988 oleh Menko Kesra H. Alamsyah Ratu Prawiranegara.

5. Pulau Kemaro

Pulau Kemaro adalah sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah aliran Sungai Musi. Pulau ini terletak di antara kawasan industri PUSRI dan Pertamina Plaju. Di tempat ini terdapat vihara Cina bernama Klenteng Hok Tjing Rio yang digunakan sebagai tempat peribadatan umat Budha. Pulau ini akan ramai pada perayaan Cap Go Meh dan Tahun Baru Imlek. Spot menarik lainnya adalah sebuah makam sepasang suami istri yang memiliki kisah cinta yang tragis.

Alhisah seorang puteri Palembang bernama Siti Fatimah, menikah dengan seorang Pangeran Cina bernama Tan Bu An. Setelahnya, Tan Bu An mengajak istrinya untuk mengunjungi keluarganya di China. Sepulang dari sana, Ibu Tan Bu An menghadiahkan mereka tujuh buah guci. Dalam perjalana pulang melewati Sungai Musi, Tan Bu An membuka guci hadiahnya dan terkejut mendapati isinya adalah sayuran busuk. Ia kemudian membuang guci-guci tersebut satu per satu hingga sampai ke guci ketujuh yang pecah sebelum jatuh ke air. Dari sana nampaklah emas yang ternnyata sengaja disembunyikan di bawah sayuran agar tidak ketahuan orang lain. Melihati itu Tan Bu An segera menceburkan ke sungai untuk mengambil kembali guci-gucinya. Siti Fatimah mengikuti jejak suaminya. Namun malangnya, tak ada dari mereka berdua yang kemudian muncul kembali ke daratan. Selain makam yang menyimpan kisah cinta abadi tersebut adapula sebuah pohon yang berdiri di tengah pulau. Masyarakat sekitar menamakannya pohon cinta. Kabarnya jika menuliskan nama di pohon tersebut, akan langgeng sampai ke jenjang pernikahan. Tidak heran jika akhirnya Pulau Kemaro ini disebut juga Pulau Jodoh.

6. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Sultan Mahmud Badaruddin II adalah nama seorang raja yang memerintah Kesultanan Palembang pada tahun 1758, melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin I. Ia adalah seorang sultan yang sangat terkenal dan memiliki banyak prestasi sehingga namanya pun digunakan sebagai nama bandara dan museum. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini terletak di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2, di atas sebuah bangunan kuno yang dulunya adalah istana kerajaan, sebelum dipindahkan ke Benteng Kuto Besak pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II. Hingga kini museum tersebut masih mempertahankan bentuknya yang asli.

Ada perjalanan panjang di balik gedung yang digunakan semasa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Sultan Mahmud Badaruddin I ini. Pada zaman kolonial, Benteng ini pernah dibakar Belanda pada tahun 1823 sebagai wujud balas dendam Belanda kepada Sultan Palembang yang membakar Loji Aur Rive. Di bekas tempat yang dibakar tersebut, dibangunlah kediaman bagi para pejabat Belanda. Gedung ini diambil alih Jepang kemudian dan digunakan sebagai markas. Baru setelah proklamasi gedung ini kembali ke pangkuan pertiwi dan akhirnya dijadikan markas Kodam II/Sriwijaya, hingga saat ini difungsikan sebagai museum. Di tempat ini Anda bisa melihat koleksi benda bersejarah dari Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang. Kurang lebih total ada 556 koleksi benda di museum yang buka setiap Senin-Kamis pada pukul delapan pagi hingga empat sore, Jumat pada pukul delapan pagi hingga setengah dua belas siang, serta Sabtu dan Minggu pada pukul sembilan pagi hingga empat sore. Perlu diingat ya untuk libur nasional museum ini tidak beroperasi.

7. Museum Balaputra Dewa

Masih tentang museum bersejarah, kali ini wisatawan akan dimanjakan oleh koleksi barang peninggalan dan kondisi kehidupan masyarakat Palembang pada zaman pra-sejarah, zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang hingga ke zaman kolonialisme. Tempat ini bernama Museum Bala Putra Dewa, berlokasi di Jalan Sriijaya I No.288 KM 5.5, Alang Alang Lebar, Sukaramai, Srijaya, Alang Alang Lebar, Kota Palembang. Nama museum ini diambil dari nama raja kerajaan Sriwijaya pada abad ke-9. Namanya terkenal karena ia adalah tokoh nusantara yang tersohor hingga ke Asia Tenggara bahkan India. Diketahui, Balaputra Dewa juga merupakan pendiri dari Sinasti Syailendra yang terkenal telah melahirkan banyak raja berpengaruh di sejarah Kerajaan Sriwijaya, Sumatera dan Mataram Kuno. Museum Balaputra Dewa berdiri di atas tanah seluas 23.565 meter persegi. Di tempat yang memiliki koleksi sebanyak kurang lebih 3.882 benda ini memiliki banyak batu besar peninggalan zaman Megalitikum, prasasti dan kain songket khas Palembang. Salah satu koleksinya yang terkenal adalah arca ibu menggendong anak dan rumah limas dan ulu yang merupakan rumah asli Palembang. Museum ini buka setiap Selasa sampai Minggu dari pukul 08.30 hingga 15.00 WIB. Tiket masuknya yang hanya Rp 2.000,00 saja pasti membuat Anda ingin berkunjung ke tempat sarat sejarah ini, bukan?

8. Punti Kayu

Bagi Anda yang berpikir jalan-jalan ke hutan harus ke pelosok desa mungkin belum pernah eksplor kota Palembang karena di Ibu Kota Sumatera Selatan ini, hutan pinus justru berada di tengah-tengah kota, tepatnya di KM 7. Hutan wisata Punti Kayu ini adalah tempat liburan favorit keluarga karena memiliki beragam flora dan fauna di atas tanah seluas 39.9 hektar ini. Hutan wisata yang berdiri sejak tahun 1985 ini adalah paru-paru kota yang memiliki danau, flying fox, miniature keajaiban dunia, waterpark, hingga taman bermain dan hiburan lainnya. Tiket masuk yang dibandrol hanya sepuluh ribu rupiah untuk orang dewasa dan lima ribu rupiah untuk anak-anak. Jika Anda ingin kemari, datanglah mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB untuk Senin sampai Jumat, atau sampai dengan pukul 17.00 WIB untuk Sabtu, Minggu dan Hari Libur.

9. Kampung Arab

Palembang adalah kota multi-etnis warisan masa lalu yang menunjukkan kekerabatan masyarakat lokal dengan pendatang dari penjuru dunia. Salah satunya adalah para pedagang Arab yang bermukim menetap di Palembang, hingga membuat suatu perkampungan yang terletak di Jalan K.H. A. Azhari Lorong Al-Munawar No.13, 13 Ulu, Seberang Ulu II, Kota Palembang. Kampung yang konon telah berdiri sejak 350 tahun lalu ini berlokasi di pinggiran sungai Musi, dengan nama resmi kampung Al-Munawar. Pergi ke kampung ini akan menawarkan Anda pemandangan rumah limas yang merupakan rumah adat Palembang yang tertata rapi.

10. Kampung Kapitan

Jl. KH Azhari – Dermaga 7 Ulu, palembang, 7 Ulu, Seberang Ulu I, Kota Palembang atau tepatnya di tepi ulu Sungai Musi, menyimpan rekam jejak kedatangan Bangsa Tionghoa ke Indonesia, khususnya Palembang. Kampung ini masih menyimpan lima belas rumah bergaya China yang bercampur dengan budaya Palembang. Dari lima belas rumah tersebut ada tiga rumah yang paling mencolok, yang merupakan kediaman Sang Kapitan. 

Kapitan yang dimaksud adalah seorang pemimpin etnis Tionghoa yang memiliki status ekonomi tertinggi. Kapitan ini dipilih oleh Belanda dengan tujuan untuk memimpin masyarakat etnis Tionghoa selama masa kolonial. Ketiga bangunan yang dimaksud ini berbentuk rumah limas yang menhdap langsung ke Sungai Musi. Ornament di dalam rumahnya bergaya China dan Eropa yang dapat Anda lihat jika berkunjung kemari. Dari seberang jembatan Ampera, Anda dapat menyaksikan kemerlap nama perkampungan ini yang selalu menyala di malam hari, seolah memanggil untuk dikunjungi. Memang, saat ini Kampung Kapitan dimanfaatkan sebagai tempat wisata kuliner khas Palembang yang memiliki nilai sejarah tinggi.

11. Taman Purbakala

Taman Purbakala Sriwijaya dulunya disebut dengan Situs Karanganyar. Lokasinya Jalan Syakhyakirti, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, Palembang. Tempat ini dipercaya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya di masa lalu karena memiliki banyak situs peninggalan purbakala, seperti halnya manik-manik, batu bata, damar, tali ijuk, keramik, dan sisa perahu.

Selain itu pula ditemukan sebuah foto tahun 1984 yang menunjukkan bahwa Taman Purbakal ini memiliki bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi pada tanah seluas 20 hektar. Di dalam taman yang diresmikan sejak 1994 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto ini terdapat Museum Sriwijaya yang dijadikan  pusat informasi mengenai situs dan temuan yang diduga berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Di tengah situs terdapat sebuah pendopo dengan model rumah limas yang merupakan rumah adat Palembang. Di dalamnya terdapat sebuah replika Prasasti Kedukan Bukit yang bercerita mengenai perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang, pendiri kerajaan Sriwijaya.

12. Musem Al Quran Raksasa

Mengukuhkan diri sebagai kota religi, tak main-main di Palembang dibangun sebuah museum Al Quran yang luar biasa besar, yang terletak di wilayah Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus. Di tempat ini, Al Quran dipahat dengan sangat cantik di atas sebuah kayu dengan ukuran 177 x 2.5 x 140 cm. Penggagas museum ini adalah Sofwatillah Mohzaib yang memulai pendirian museum karena terinspirasi dari mimpinya melihat Al Quran yang sangat besar. Proses penyelesaian Al Quran yang terdiri atas 630 halaman ini berlangsung selama tujuh tahun. Hasilnya bisa Anda lihat sekarang, sebuah kaligrafi yang indah dengan lantunan ayat suci di atas kayu berwarna coklat yang dihiasi ornament khas Palembang.

13. Bukit Siguntang

Bukit Siguntang yang terletak di kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang adalah sebuah kompleks pemakaman raja dan punggawan jaman Melayu dan Sriwijaya, seperti: Raja Sigentar Alam, Pangeran Raja Batu Api, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima Tuan Junjungan, Panglima Bagus Kuning dan Panglima Bagus Karang. Berdasarkan hasil temuan artefak, diduga bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah pusat keagamaan kerajaan.

14. Jakabaring Sport City

Jakabaring atau yang juga memiliki nama Stadion Gelora Sriwijaya adalah arena olahraga multifungsi yang memiliki ukuran terbesar ketiga di Indonesia, setelah Gelora Bung Karno dan Stadion Palaran. Di tanah seluas 40 hektar ini sering dilangsungkan pertandingan-pertandingan olahraga besar. Pada saat tahun 2004, Jakabaring digunakan sebagai tempat penyelenggaraan PON ketika Palembang diberikan mandat sebagai tuan rumah. 

15. Kambang Iwak

Nah terakhir, kalau Anda ke Palembang sekalian mampir ke spot gaulnya anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua terutama di akhir pekan, mana lagi kalau bukan Kambang Iwak. Kambang Iwak atau yang biasa disingkat KI adalah taman besar di Jalan Tasik, Talang Semut, Bukit Kecil, Palembang, yang menjadi favorit untuk menghabiskan waktu bersantai terutama di pagi dan sore hari. Di tempat ini Anda dapat berolahraga, wisata kuliner sampai dengan berbelanja produk-produk murah yang membuka stand. Di akhir pekan juga banyak ditemukan senam gratis yang siap menyehatkan minggu Anda.

16. Tempat Wisata Lainnya

Selain tempat wisata yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi tempat wisata lainnya yang ada di Palembang dan sekitarnya seperti :
  • Amanzi WaterPark
  • Masjid Cheng Ho Palembang
  • Palembang Bird Park
  • Masjid Agung Palembang
  • Fantasy Island
  • Taman Pelangi Sriwijaya
  • dan lain-lain

Demikianlah beberapa alternatif lokasi wisata yang patut dikunjungi jika ingin berkunjung ke Bumi Sriwijaya. Tak lupa juga kami ingatkan untuk mencoba aneka menu kuliner khas Palembang seperti halnya empek-empek, tekwan, model dan martabak har. Selamat menikmati wisata tak terlupa di Palembang.